Workshop “Optimalisasi Pelestarian Koleksi Mikro film dan Foto di Era Digital”

Eka Kusmayadi dan Mustika Sinuraya

Workshop dilaksanakan pada hari Senin, 16 September 2013 pukul 08.00 sampai dengan 16.00 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta dan dibuka oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI Ibu Dra Sri Sularsih, MLib. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati “Hari Kunjung Perpustakaan dan Gemar Membaca Tahun 2013”.  Workshop bertujuan agar setiap pustakawan dan petugas perpustakaan dapat melestarikan bahan pustaka yang dimiliki, sehingga isi intelektual yang ada dalam bahan pustaka tersebut dapat dilestarikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Makalah workshop terdiri atas 1) Prospek Koleksi Mikrofilm di Era Digitalisasi (DR. Roger Tol (KITLV), 2) Urgensi Alih Media Bahan Pustaka Dalam Bentuk Mikrofilm (Dr. Tamara Adriani Susetyo Salim, SS., M.A. (Universitas Indonesia), 3) Pelestarian dan Perawatan Koleksi Foto Serta Film Analog di Era Digital (Tirto Andayanto (Komunitas Fotografi Indonesia) dan 4) Proses dan Mekanisme Pelestarian dan perawatan Koleksi Mikrofilm dan foto (Muhammad Kodir, S.Sos, M.Si (Perpustakaan Nasional). Selain itu juga diadakan Demo dan Peragaan Pelestarian dan Perawatan Koleksi Mikrofilm dan Foto oleh Muhayar, S.sos, dan Achmad Ti’sa Walad, A.Md (Perpustakaan Nasional).

Kegiatan pelestarian ini disebut pula dengan pelestarian pasif, dimana fokus tujuan dari objek kegiatan yang dilakukan adalah menyelamatkan isi intelektualnya terlebih dahulu, agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Tentu saja upaya penyelamatan ini dilakukan dengan tetap memperhatikan keselamatan dari objek fisik penyimpan informasi tersebut. Oleh karena itu penting kiranya untuk menentukan media penyimpan isi intelektual yang tepat, yang nantinya akan dijadikan sebagai salinan utamanya.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, sebagai sebuah pusat informasi, perpustakaan sudah banyak yang mengandalkan koleksi berbentuk digital karena alasan kecepatan dan kemudahan aksesnya. Digitaisasi adalah proses pemberian atau pemakaian sistem digital.  Proses digitalisasi meliputi kegiatan 1) Reproduksi (pengembangbiakan; tiruan; hasil ulang), 2) Scanning (melihat dengan cermat dan lama; memandangi), 3) Fotografi Film (Analog) (difoto dengan media rekam film, di scan menjadi data digital, film bisa langsung dicetak menjadi foto/gambar berwarna atau hitam putih, foto dapat langsung di scan menjadi data digital) dan 4) Fotografi Digital (difoto dengan media rekam sensor digital, hasil foto/gambar tersimpan dalam file digital (Tiff, Jpg), dikoreksi warna dengan software (Capture One dan Photo shop), dan disesuaikan resolusi dan size).

Untuk pengembangan alih media di perpustakaan penggunaan scanner berkapasitas tinggi sebaiknya diaplikasikan, apalagi pada perpustakaan yang jumlah koleksi yang diterima setiap tahunnya tinggi, sementara pelaksana alih medianya sedikit.  Untuk koleksi antiquariat yang memiliki ukuran kertas yang besar (A2-A3) dan kondisi kertas yang sudah rapuh sangat disarankan untuk menggunakan kamera digital minimal 10 megapixel.

Dalam workshop ini yang menarik adalah pada saat presentasi dari Mrs Roger Tol dan Ibu Tamara.  Mr Roger menyatakan bahwa sebaiknya sekarang ini melakukan digitalisasi saja, tidak perlu melestarikannya ke dalam bentuk mikro. Karena pengalaman dia bahwa di Indonesia ternyata banyak lembaga yang pernah melakukan alihmedia ke dalam bentuk mikro tetapi kondisi filmnya sudah rusak karena berjamur, lengket dan meleleh. Padahal bentuk aslinya malah masih ada. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa harus ada bentuk file yang disiapkan sehingga mempunyai kompatibilitas yang tinggi dan dukungan infrastruktur yang kuat.  Cara backup data sistemik dan banyak server-server backupnya. Memang hal tersebut akan memerlukan biaya yang besar. Oleh karena itu, harus dilakukan secara terkoordinir misalnya oleh perpustakaan nasional. Dia memberikan contoh di Belanda ada proyek besar dari perpustakaan nasional dalam pengalihmediaan surat kabar dari tahun-tahun lama (lihat http://www.kranten.kb.nl) dan kerjasama perpustakaan nasional dengan arsip nasional Belanda (lihat http://www.metamorfoze.nl). Mereka mengambil kebijakan (tahun 2008) tidak melakukan lagi alihmedia ke dalam bentuk mikro, namun semua akan dialihmediakan ke dalam bentuk digital.

 Alasan Roger menyatakan hal tersebut salah satunya juga karena sekarang ini bahan-bahan untuk pembuatan mikro sulit diperoleh.  Berlainan dengan Bu Tamara yang menyebutkan bahwa dalam kondisi ruang dengan suhu 20 derajat C dan RH < 50%, maka mikro akan bisa tahan samapai 200 tahun, dengan catatan bahannya harus dari polyester yang mempunyai standard internasional, suhu dan RH dapat dipertahankan konstan. Dengan demikian, bentuk mikro masih perlu dipertahankan sebagai bentuk preservasi koleksi perpustakaan.

1 dscn6021 IMG_20130916_144700
2 a  DSCN6024

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: