Kemas ulang informasi sebagai langkah inovatif layanan perpustakaan

Eka Kusmayadi

 

Pada hari kamis, 30 Oktober 2014, saya mengikuti acara tentang “Kemas ulang informasi sebagai langkah inovatif layanan perpustakaan”. Acara ini merupakan kegiatan Humas Kementerian Perdagangan di bidang perpustakaan, yaitu forum komunikasi pustakawan. Kegiatan dilakukan dalam bentuk seminar dan dibuka oleh Bapak R. Sudiyatmoko, mewakili Kepala Bagian Hubungan Masyarakat, Kemendag. Kegiatan diikuti oleh 25 orang peserta yang berasal dari lingkungan Kemendag dan kementerian lain. Nara sumber berasal dari PDII-LIPI, yaitu Ir. Rochani Nani Rahayu, M.Si (pustakawan madya) dan Ira Maryati, STP (peneliti bidang pusdokinfo).
Beberapa catatan hasil kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Berdasarkan Kemenpan No. 132/KEP/M.PAN/12/2002, yang dimaksudkan dengan kegiatan pengemasan informasi antara lain mengolah data, membuat anotasi, menyusun daftar tambahan bahan pustaka, menyusun bibliografi, indeks, abstrak dan sejenisnya, membuat klipping, bahan penyebaran informasi terbaru dan terseleksi, tinjauan pustaka, dan sebagainya.
2. Kegiatan pengemasan informasi baik pada pustakawan terampil maupun ahli tersebar dalam semua unsur kegiatan, kecuali pendidikan. Unsur kegiatan tersebut yaitu unsur pengorganisasian dan pendayagunaan bahan pustaka/sumber informasi, pemasyarakatan perpustakaan, pengembangan profesi dan pengkajian (hanya untuk pustakawan ahli).
3. Untuk pustakawan terampil, kegiatan pengemasan informasi ada 38 butir, dengan rincian 14 butir (36,84%) untuk semua jenjang, 1 butir(2,63%) untuk pustakawan pelaksana, 12 butir (31,58%) untuk pustakawan pelaksana lanjutan dan 11 butir (28,94%) untuk pustakawan penyelia.
4. Untuk pustakawan ahli, kegiatan pengemasan informasi ada 72 butir dengan rincian 14 butir (19,44%) untuk semua jenjang, 27 butir (37,50%) untuk pustakawan pertama, 21 butir (29,16%) untuk pustakawan muda, 7 butir (9,72%) untuk pustakawan madya dan 3 butir (4,16%) untuk pustakawan utama.
5. Pengemasan informasi dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh pemustaka. Oleh karena itu, aspek pengguna menjadi penting untuk diperhatikan dalam kegiatan pengemasan informasi.
6. Tahapan yang dilakukan dalam kegiatan pengemasan informasi adalah a) penentuan tema, b) pengumpulan bahan, c) analisis konten, d) alihmedia dan e) evaluasi.

7. Tidak semua bentuk pengemasan dapat dilaporkan dalam bentuk aslinya. Hal tersebut disebabkan oleh karena bentuk tersebut tidak ada disebutkan sebagai butir perolehan nilai kredit. Oleh karena itu, bentuk lain dari pada hasil kegiatan dapat dilaporkan dalam bentuk yang bisa diangkakreditkan, misalkan dibuatkan tulisannya dalam bentuk kajian atau laporannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: