Artikel

1. TEENAGE READERS’ ATTITUDES AND PREFERENCES TO READING ON DIFFERENT DEVICES
Telah dilakukan perbandingan dari 143 siswa untuk membaca teks sastra menggunakan Sony ereader dan dalam bentuk cetak.  Kajian bertujuan untuk mendapatkan gambaran atau preferensi penggunaan perangkat membaca yang berkaitan dengan gender dan kebiasaan membaca.Siswa diminta untuk mulai membaca novel pada satu perangkat dan kemudian melanjutkan membaca novel yang sama pada perangkat lainnya. Sebuah survei diberikan sebelum dan sesudah sesi membaca, mengukur kebiasaan membaca pada umumnya, preferensi perangkat, dan pengalaman dengan layar dan membaca kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sebagian besar siswa lebih suka membaca menggunakan ereader. Preferensi ini sangat kuat di kalangan anak laki-laki dan pembaca enggan (jarang), sedangkan pada pembaca setia lebih menyukai bentuk cetak (Ini merupakan abstrak dari artikel berjudul :  Teenage readers’ attitudes and preferences to reading on different devices/ Ase Kristine Tveit dan Anne Mangen pada Library and Information Science Research 2014 V.36 no3-4 hal 179-184. Jurnal ada dalam ScienceDirect Online Journal).

 

2. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PUSTAKAWAN DEPARTEMEN PERTANIAN DALAM MEMPEROLEH ANGKA KREDIT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat pustakawan Departemen Pertanian dalam memperoleh angka kredit. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Juni 2002 terhadap 92 pustakawan yang ada di 42 unit kerja lingkup Departemen Pertanian. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner mengenai karakteristik responden dan faktor-faktor penghambat mereka dalam memperoleh angka kredit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia responden tergolong produktif, dengan jenis kelamin lebih banyak perempuan, memiliki tingkat pendidikan bervariasi dari SLTA sampai sarjana, umumnya cukup berpengalaman dalam jabatan fungsional pustakawan, dan sebagian besar tergolong dalam jabatan pustakawan terampil. Faktor internal yang menghambat pustakawan dalam memperoleh angka kredit adalah kreativitas terbatas, kemampuan melakukan penelitian terbatas, kurang mandiri melaksanakan tugas, penguasaan keterampilan teknis rendah, kurang menguasai bahasa Inggris, dan keterampilan komputer terbatas. Faktor eksternal yang menjadi penghambat adalah kurang memiliki program kerja individu, tunjangan jabatan terbatas, dan penetapan  (artikel merupakan tulisan dari Maman Permana, Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Jln. Ir. H. Juanda No. 20, Bogor 16122 dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol. 12, Nomor 1, 2003 )

 

3. MERETAS KEBUNTUAN KEPUSTAKAWANAN INDONESIA DILIHAT DARI SISI SUMBER DAYA TENAGA PERPUSTAKAAN

Saya akan mengulas berdasarkan pengalaman saya bekerja di pusat dokumentasi dan perpustakaan selama lebih dari 40 tahun, yaitu sejak tahun 1963 sampai 2005, tentang karakteristik secara umum atau profil sumber daya perpustakaan dan terutama Pustakawan Indonesia, sebagai berikut:

1. Saya berpendapat bahwa sebagian Pustakawan Indonesia pada umumnya seperti mengidap gejala atau “sindrom autis”.

Sindrom autis adalah kecenderungan seseorang yang sibuk dengan dunianya sendiri, dan tidak suka bila ada orang lain mengganggu. Sosialisasi dan hubungan Pustakawan Indonesia dengan komunitas profesi lain sangat terbatas. Pustakawan Indonesia amat tertutup, sulit dan lambat merespon pandangan atau gagasan orang lain yang dirasakan akan mengganggu wilayah atau demarkasi “mainannya”, berupa kegiatan, proyek dan sejenisnya. Boleh jadi karena sebagian Pustakawan kurang percaya diri. Hal ini terlihat, bahwa sebagian Pustakawan Indonesia tidak suka dengan ide pemanfaatan tenaga dari luar instansinya, karena dirasakan Pustakawan pendatang akan mengurangi demarkasi dan mengganggu kemapanan lahan “mainannya”. Karena kurang percaya diri, maka kehadiran Pustakawan pendatang dihadang dengan rasa curiga dan was-was, bahkan dimusuhi dan dijauhi secara sembunyi-sembunyi. Padahal Pustakawan pendatang merupakan “darah segar” yang dapat mendorong kinerja Pustakawan lain ke tingkat yang lebih baik. Sementara itu, Pustakawan-pustakawan yang “hijrah” atau pindah ke instansi lain dianggap dan diberi label “penghianat” oleh rekan-rekan seprofesi di instansi yang ditingalkannya karena dianggap tidak loyal. Sungguh celaka, karena tanpa mereka sadari, hakikat “hijrah” adalah perubahan. Pustakawan yang tidak mau berubah, dapat dikatakan telah tamat riwayat atau karirnya Tanpa semangat dan kemauan untuk berubah dan upaya untuk meningkatkan diri, Pustakawan mengalami kebuntuan.

2. Sebagian Pustakawan Indonesia masih lemah di dalam penguasaan bahasa asing dan teknologi informasi (TI).

Salah satu syarat yang harus dimiliki Pustakawan Indonesia pada saat ini adalah kemampuan komunikasi yang ditandai kemampuan berbahasa asing dan tidak gagap teknologi, terutama teknologi informasi. Bagaimana Pustakawan Indonesia dapat diperhitungkan di forum regional dan internasional bila tidak menguasai bahasa asing sebagai syarat berkomunikasi ? Mereka lebih banyak menjadi pendengar yang baik dan duduk manis di pertemuan regional dan internasional. Pengalaman sejauh ini juga memperlihatkan, bahwa berbagai situs jaringan informasi sebagai salah satu wadah komunikasi maya atau virtual, belum dimanfaatkan secara optimal oleh Pustakawan Indonesia. Tanpa ada kemampuan berkomunikasi secara profesional, baik secara langsung berupa dialog tatap-muka maupun melalui sarana maya (virtual), terjadi kebuntuan kepustakawanan Indonesia dengan rekan-rekan seprofesi mancanegara.

3. Pada umumnya, sebagian Pustakawan tidak banyak menulis, apalagi dalam penulisan karya bersama.

Sebenarnya Pustakawan menyadari pentingnya menulis. Apalagi kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan utama atau pokok bagi tenaga fungsional Pustakawan guna memperoleh angka kredit, di samping agar mereka semakin dikenal rekan-rekan seprofesinya, seperti ungkapan klasik mengatakan, “To publish or perish”. Namun kenyataannya, hingga saat ini keadaannya tidaklah terlalu menggembirakan. Hal ini antara lain terlihat di dalam penulisan buku ajar di bidang perpustakaan. Selama kurun waktu satu dekade, 1991—2001, ternyata terdapat 89 buku atau rata-rata 9 buku ditulis setiap tahun. (Rusli Marzuki, 2002). Dari 89 buku, hanya ada 27 buku (30%) ditulis pengarang bersama, termasuk karya terjemahan. Ada 12 Pustakawan (14%) yang menulis lebih dari satu buku selama kurun waktu tersebut. Dan pemecah rekor di dalam penulisan buku ajar di bidang perpustakaan adalah penulis produktif, sosok yang telah kita kenal, yaitu Prof. Sulistyo-Basuki, Ph.D. yang telah menulis 7 buku (8%) dari jumlah tersebut dalam kurun waktu 10 tahun. Alangkah cantiknya, bila kepiawaian atau keahliannya menulis ditularkan kepada rekan-rekan seprofesi yang lebih muda usia dan lebih muda pengalaman, agar hal itu merupakan air yang terus mengalir atau “panta rei” dan tidak akan kering.
Sementara itu, selama dua dekade terakhir, kurun waktu 1985—2004, terdapat 122 karya tulis berupa artikel dan makalah di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi (bidang perpusdokinfo). (Arifah Sasmita; Tri Nugraheni, 2005). Dari 122 karya tulis tersebut hanya ada 5 karya tulis bersama (4%). Pada kurun waktu yang sama, terdapat 105 laporan penelitian di bidang perpusdokinfo (Arifah Sasmita; Tri Nugraheni, 2005), dan di antaranya ada 29 kajian/penelitian yang ditulis bersama (28%). Melihat angka terakhir ini cukup menggembirakan, meskipun perlu diketahui, bahwa kajian/penelitian tersebut merupakan kegiatan proyek atau penugasan instansi di mana mereka bekerja.
Rendahnya jumlah penulisan di bidang perpusdokinfo mempunyai hubungan atau korelasi dengan kegiatan penulisan di tingkat nasional untuk semua bidang ilmu pengetahuan yang dijaring secara internasional. Pada tahun 1995, Gibbs mendaftar negara-negara penghasil tulisan ilmiah, dan Indonesia termasuk salah satu negara yang “kehilangan ilmu pengetahuan”, karena ternyata Indonesia hanya menghasilkan tulisan/ilmu pengetahuan 0.012% di antara negara-negara lain. Namun patutlah disyukuri, bahwa Indonesia dengan penduduk 220 juta, peringkatnya masih di atas nenerapa negara di benua Afrika dan Timur Tengah, seperti Mali, Ethiopia, Uganda dan Yaman. Produk tulisan Indonesia tentunya harus ditulis dalam bahasa Inggeris, supaya terbaca komunitas internasional. Bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN, dalam produksi karya tulis ilmiah, Indonesia yang menghasilkan produk 0.012% adalah yang terendah dibandingkan dengan Singapura 0.179%, Thailand 0.084%, Malaysia 0.064%, dan Filipina 0.035%. Gambaran umum ini merefleksikan produksi karya tulis di bidang perpusdokinfo masih amat rendah. Mengingat sebagian besar karya tulis ilmiah ditulis dalam bahasa Indonesia, maka komunitas internasional tidak dapat membaca atau mengerti perkembangan bidang perpusdokinfo di Indonesia. Dengan demikian, tanpa dukungan kemampuan membaca produk informasi dunia dan kemampuan menulis, Pustakawan dan kepustakawanan Indonesia mengalami kebuntuan dan kehilangan pengetahuan.

4. Sebagian Pustakawan Indonesia sejauh ini bekerja sebagai burung dengansebelah sayap.

Penjelasan mengenai ungkapan “Burung dengan sebelah sayap” oleh Gede Prama dimuat pada Lampiran. Pengertian kerja mandiri yang dibanggakan Pustakawan banyak ditafsirkan secara sempit. Mereka sibuk bekerja sendiri-sendiri dan timbul egoisme sektoral, dan pada gilirannya egoisme perorangan atau individu membentuk pola pikir terkotak-kotak antar unit kerja dan bahkan antar institusi. Persaingan, perseteruan pribadi maupun institusi (personal and institutional rivalry) ini merupakan salah satu penyebab kebuntuan kepustakawanan Indonesia. Mengapa komunitas kepustakawanan Indonesia yang jumlahnya sedikit atau terbatas ini tidak secara tulus  berkolaborasi agar dapat mencapai hasil kerja yang optimal. Untuk itu, para Pustakawan Indonesia perlu
bekerjasama dengan fikiran dan matahati yang jernih dan menjauhkan sifat ke-aku-an. Kerjasama atau kolaborasi antar Pustakawan dan para Pejabat perpustakaan akan menjauhkan diri dari sikap yang tertulis sebagai ungkapan “Manusia adalah serigala di antara sesamanya” (Homo homini lupus). Mentalitas dan cara pandang para Pustakawan dan para pejabat di bidang kepustakawanan perlu diubah. Mereka perlu mengubah sikap dan cara pandang “milik aku” menjadi “milik kami” dan pada akhirnya menjadi “milik kita bersama”. Namun hal ini merupakan “pekerjaan rumah” yang tidak mudah dan memerlukan waktu, tidak seperti membalik telapak tangan. Dengan demikian, tanpa usaha mau merubah cara pandang maupun adanya tekad untuk memperbaiki mentalitas para Pustakawan dan para Pejabat yang bekerja di perpustakaan, maka kepustakawanan Indonesia mengalami kebuntuan.

Tulisan di atas diambil dari Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Pustakawan Utama Bapak Hernandono, Tahun 2005

Institusi/ lembaga pemerintah sebagai salah satu bentuk organisasi agar mampu mencapai keberhasilan sangat tergantung kepada sumber daya manusianya. Dalam hal ini “aparatur” yang mewakilinya yang  tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, memerlukan persiapan melalui pendidikan dan pelatihan. sebagai dasar meningkatkan kualitas sumber daya  dan peningkatan kinerja SDM dalam menghadapi persaingan global.  Dalam kaitan ini, salah satu aspek (indikator) keberhasilan suatu organisasi pemerintah yakni kelancaran pelayanan di sektor publik hingga saat ini belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas. Dengan adanya Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, diharapkan mampu memperbaiki manajemen pemerintahan yang beorientasi pada pelayanan publik sebab PNS tidak lagi berorientasi melayani atasannya, melainkan masyarakat. Oleh karena itu, sebagai Sumber Daya Manusia yang handal dalam melaksanakan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) harus mampu menjalankan revolusi mental dengan mendasari tuntunan kehidupan beragama secara benar, selalu memiliki komitmen dalam melayani masyarakat sehingga tercipta good governance .Di setiap organisasi akan bisa dicapai melalui kesadaran diri ASN yang mempunyai etos kerja yang baik sudah barang tentu akan menghasilkan kinerja yang baik, sehingga akan didapatkan ASN yang professional.    Di sisi lain, ASN dalam menjalankan revolusi mental harus membentengi  dengan cara mewarisi nilai –nilai  kepahlawanan kemerdekaan para pendahulu  kita ditambah nilai- nilai moral dengan menjalankan/mengamalkan kehidupan beragama secara konsisten.

Menurut Drs. H. Taufiq Efendi, MBA bahwa aspek pendidikan dan pelatihan  menjadi sangat utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sekaligus sebagai proses investasi jangka panjang, tentang permasalahan dan peningkatan  kinerja SDM aparatur Negara menghadapi persaingan global, bahwa reformasi aparatur dilaksanakan secara terus- menerus dengan ditopang oleh motivasi untuk mencari  cara yang lebih efektif dan efisien.(Efendi,2008)

Kata Kunci:  Aparatur Sipil Negara, Revolusi, Mental

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: